Senin, 09 September 2013

Aceh Documentary Competition


Ini merupakan Trailer 5 Film Aceh Documentary Competition (ADC) 2013, yaitu
1. Meretas Asa di Kaki Gunung Goh (sutradara "Novianti MR & Rizki Fajar") 2. Perempuan kopi (Sutradara "Iwan Setiawan & Edi Santosa") 3. Kabar Baik di Dhapu Adee (Sutradara "Nuzul Fajri & Rizqi Saputra") 4. Mableun (Mirisnya Kesehatan di Pulo Aceh) (Sutradara "Samsul Qamar & Faisal Ilyas") 3. Pakaianku Tinggal Kenangan (Sutradara "Maria Ulva & Muhammad Rizki") Informasi lebih lengkap, hubungi: Azhari (081334644434), Ory (08126953541). Sedangkan untuk film dokumenternya tunggu saja di Rekam Indonesia.

Selasa, 09 April 2013

Khasanah Warisan Batik Indonesia (Part 1)


Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain.
Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan.
Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Prambanan, Simbol Candi Agung Hindu (Part 1)


Prambanan adalah candi Hindu terbesar dan termegah yang pernah dibangun di Jawa kuno, pembangunan candi Hindu kerajaan ini dimulai oleh Rakai Pikatan sebagai tandingan candi Buddha Borobudur dan juga candi Sewu yang terletak tak jauh dari Prambanan.
Candi Prambanan atau Candi Rara Jonggrang adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah.

Bercerita Lewat Wayang (Part 1)


Pada 7 November 2003, UNESCO menetapkan wayang sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).
Ketika agama Hindu masuk ke Indonesia dan menyesuaikan kebudayaan yang sudah ada, seni pertunjukan ini menjadi media efektif menyebarkan agama Hindu. Pertunjukan wayang menggunakan cerita Ramayana dan Mahabharata.
Demikian juga saat masuknya Islam, ketika pertunjukan yang menampilkan "Tuhan" atau "Dewa" dalam wujud manusia dilarang, munculah boneka wayang yang terbuat dari kulit sapi, dimana saat pertunjukan yang ditonton hanyalah bayangannya saja. Wayang inilah yang sekarang kita kenal sebagai wayang kulit. Untuk menyebarkan Islam, berkembang juga wayang Sadat yang memperkenalkan nilai-nilai Islam.

Subak, Irigasi Tradisional Alam Bali (Part 1)


Subak ini biasanya memiliki pura yang dinamakan Pura Uluncarik, atau Pura Bedugul, yang khusus dibangun oleh para petani dan diperuntukkan bagi dewi kemakmuran dan kesuburan Dewi Sri. Sistem pengairan ini diatur oleh seorang pemuka adat yang juga adalah seorang petani di Bali. Pada tahun 2012, UNESCO mengakui Subak (Bali Cultur Landscape), sebagai Situs Warisan Dunia.

Rabu, 03 April 2013

Kunokini Trailer


Sebuah Film dokumenter tentang sekelompok orang yang terus berjuang untuk memperkenalkan alat musik tradisional indonesia alat musik tradisional Indonesia adalah sebuah kekayaan budaya Indonesia yang tak ternilai harganya. Namun banyak pula yang tidak mengetahui bahkan sama sekali belum pernah mendengar alat musik tradisional tersebut dimainkan, di tengah majunya industri musik modern.
Alat musik tradisional ini semakin jarang dimainkan atau didengarkan, namun ada salah satu group musik indonesia yang masih menggunakan alat-alat musik tersebut, dan agar bisa diterima oleh masyarakat pada era sekarang mereka mengkombinasikan alat2 musik tersebut dengan irama2 dan sentuhan modern.
Group musik kunokini ini terus berkarya dengan selalu melibatkan atau menggunakan alat musik traditional, dengan semangat nasionalisme mereka selalu menyebarkan virus cinta indonesia dengan mengaransemen ulang lagu rasa sayange, Yamko Rambe Yamko, lagu jawa, indo baru dan soldier dan bahkan mereka sempat perfomance di beberapa negara dan tampil dengan menggunakan alat2 musik traditional tersebut, dibeberapa kesempatan mereka juga terlibat scoring film dengan menggunakan alat2 musik traditional, spirit nasionalisme yang mereka usung pantas kita apresiasi.

Melawan Batas


Setelah lebih dari 20 tahun Indonesia tidak pernah menjadi tuan rumah kompetisi Marathon, akhirnya tahun lalu berkesempatan menjadi tempat penyelenggara International Bali Marathon 2012. Lebih dari 2000 peserta mengikuti. Berikut cerita spesial dari beberapa pelari.

Senin, 01 April 2013

Noken Khas Papua (Part 1)


Noken mengalami perkembangan cukup bagus dibandingkan dengan fasilitas tradisional lainnya. Setelah noken dianyam, diberi warna-warni sehingga berpenampilan lebih memikat pemilik. Saat ini noken lebih banyak ditemukan di Paniai. Daerah ini dikenal sebagai gudang noken. Namun, penduduk setempat menyebutnya agiya. Di Paniai dikenal enam jenis agiya, yakni goyake agiya, tikene agiya, hakpen agiya, toya agiya, kagamapa agiya, dan pugi agiya.
Kepala Bagian Tata Usaha Dinas Pariwisata Kabupaten Paniai Thomas Adi menyebutkan, jenis-jenis agiya ini dibedakan sesuai bahan, bentuk, warna, dan pemakaian dalam suku.

Kamis, 28 Maret 2013

Noken Khas Papua (Trailer)


Terbuat dari bahan baku kayu pohon Manduam, pohon Nawa atau Anggrek hutan. Masyarakat Papua biasanya menggunakan Noken untuk bermacam kegiatan, Noken yang berukuran besar dipakai untuk membawa barang seperti kayu bakar, tanaman hasil panen, barang-barang belanjaan, atau bahkan digunakan untuk menggendong anak. Sedangkan yang berukuran kecil digunakan untuk membawa barang-barang pribadi. Keunikan Noken juga difungsikan sebagai hadiah kenang-kenangan untuk tamu dan dipakai dalam upacara.
Karena keunikannya yang dibawa dengan kepala, noken ini di daftarkan ke UNESCO sebagai salah satu hasil karya tradisional dan warisan kebudayaan dunia dan pada 6 desember 2012 ini, noken khas masyarakat Papua ditetapkan sebagai warisan kebudayaan tak benda UNESCO.

Eksotika Borobudur (Part 1)


Borobudur dibangun sekitar tahun 800 Masehi atau abad ke-9. Candi Borobudur dibangun oleh para penganut agama Buddha Mahayana pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra. Candi ini dibangun pada masa kejayaan dinasti Syailendra.
Relief dan pola hias Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus. Relief-relief ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia Buddha.
Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan; tiap tahun umat Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata, Borobudur adalah obyek wisata tunggal di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan.

Senin, 25 Maret 2013

Warna-Warni Sudut Kota Tua (Part 2)


Bangunan khas Belanda menjadi daya tarik tersendiri sehingga menjadi tempat wisata sejarah yang selalu ramai dikunjungi dan menarik. Bahkan tak jarang pertunjukan rakyat digelar di sini.

Jumat, 26 Oktober 2012

Warna-warni Sudut Kota Tua (Part 1)


Beragam pernak-pernik dan aktivitas warga dari segala usia ini membaur menghiasi kawasan Kota Tua di Jakarta Barat yang posisinya dekat dengan Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri juga Stasiun Kota atau biasa dikenal Stasiun Beos.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Masjid Jami’ As-Salafiyah, Peninggalan Pangeran Achmad Djaketra


Masjid bersejarah ternyata bukan hanya terdapat di sekitar kawasan Kota Tua saja. Namun, ada salah satu masjid tertua lainnya di wilayah Jakarta Timur, tepatnya di jalan Jatinegara Kaum Raya, masjid ini juga dikenal dengan sebutan Masjid Jami’ As-Salafi...

Masjid bersejarah ternyata bukan hanya terdapat di sekitar kawasan Kota Tua saja. Namun, ada salah satu masjid tertua lainnya di wilayah Jakarta Timur, tepatnya di jalan Jatinegara Kaum Raya, masjid ini juga dikenal dengan sebutan Masjid Jami’ As-Salafiyah.

Masjid As-Salafiyah yang didirikan oleh pangeran Achmad Djaketra pada tahun 1620 bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, melainkan digunakan sebagai tempat mengatur strategi dan mengadakan serangan balasan terhadap VOC.

Masjid yang menempati lahan 7.000 meter persegi ini diberi nama As-Salafiyah yang artinya pendahulu dan penamaan masjid tersebut oleh Gubernur DKI Jakarta Dr. Soemarno. Meski sudah mengalami renovasi, masjid ini masih mempertahankan beberapa bagian hingga saat ini masih terjaga keaslianya.

Selain bangunan masjid, di sebelah bagian barat terdapat komplek makam pangeran Achmad Djaketra, Pangeran Sageri, Pangeran Lahut putra pangeran Achmad Djaketra dan beberapa makam kerabatnya. Peziarah yang datang tidak hanya dari Jakarta saja, melainkan banyak peziarah yang datang dari luar ibukota Jakarta.

Video Journalist : DENNY SUGIHARTO | DWI OKTAVIANE

Situs Batujaya Peninggalan Kerajaan Tarumanagara


Hanya butuh waktu sekitar tiga jam dari Jakarta menuju kota lumbung padi Karawang, Jawa Barat. Kali ini Komunitas Jelajah Budaya akan mengunjungi sebuah peninggalan arkeologi berupa kompleks percandian Batujaya. Kawasan Batujaya termasuk di wilayah desa...

Hanya butuh waktu sekitar tiga jam dari Jakarta menuju kota lumbung padi Karawang, Jawa Barat. Kali ini Komunitas Jelajah Budaya akan mengunjungi sebuah peninggalan arkeologi berupa kompleks percandian Batujaya. Kawasan Batujaya termasuk di wilayah desa Segaran, kecamatan Batujaya dan desa Telagajaya kecamatan Pakisjaya.

Sesampai di lokasi percandian batujaya, kita disambut oleh hamparan sawah yang luas dan padi yang menghijau. Sebelum kita memasuki area percandian, kita mampir terlebih dahulu ke museum yang dibangun pemerintah setempat untuk memamerkan barang-barang arkeologi yang ditemukan saat ekskavasi. Didalam museum kita bisa melihat koleksi berupa keramik, bata berprofil, bata kunci, bata bercap kaki, bata bertulis, bata dari susunan stupa, pecahan kaca, manik-manik, arca, tengkorak manusia, gerabah (type buni).

Setelah puas melihat koleksi yang ada di museum, peserta kemudian berjalan beriringan menyusuri persawahan yang dipandu oleh Hasan Djafar, beliau adalah salah satu orang yang ikut ekskavasi situs Batujaya sejak tahun 1985. Panas siang itu tidak menyurutkan niat peserta menyimak penjelasan dari Hasan Djafar saat sampai ke lokasi candi yang pertama, yaitu candi Jiwa.

Kompleks percandian Batujaya merupakan peninggalan pada jaman kerajaan Tarumanagara pertama kali ditemukan pada tahun 1984 oleh tim jurusan arkeologi fakultas sastra (sekarang departemen arkeologi fakultas ilmu pengetahuan budaya) Universitas Indonesia, berdasarkan informasi dari penduduk Cibuaya. Kawasan yang memiliki luas sekitar 5 km/segi hingga saat ini terdapat lebih dari 30 candi tersebar di kawasan tersebut. Dua diantaranya yang paling monumental adalah candi Jiwa dan candi Blandongan.

Pertama kali ditemukan, candi-candi tersebut masih berada didalam gundukan tanah yang tersebar di lahan persawahan, penduduk setempat menyebutnya sebagai unur. Dari penggalian di candi Jiwa, situs ini telah ditampakkan seluruh permukaan bangunan yang tersisa dan beberapa bagian kaki candi. Candi Jiwa berukuran 19 x 19 m dengan tinggi seluruh bangunan yang tersisa 4,70 m.

Situs berikutnya adalah situs Blandongan yang terbesar jika dibandingkan dengan situs-situs yang lain di kawasan Batujaya. Candi dengan bagian kaki yang berdenah bujur sangkar berukuran 25 x 25 m, memiliki empat buah tangga yang terletak di keempat sisinya. Selain itu juga ditemukan empat fragmen inskripsi yang berisi ayat-ayat suci agama budha, oleh karena itu candi di kawasan Batujaya merupakan candi agama budha dan satu-satunya yang ada di Jawa Barat.

Video Journalist : DENNY SUGIHARTO | DWI OKTAVIANE

Bupati Halmahera Utara Menari di Pesta Adat Nusantara


Bersatunya masyarakat adat se-nusantara secara seremonial dirayakan pada tanggal 17 Maret 2012 lalu, di Goethe Haus, Jakarta. Perayaan yang menampilkan pameran foto dan pagelaran budaya diisi para tokoh pendukung gerakan masyarakat adat. Pada kesempatan...

Bersatunya masyarakat adat se-nusantara secara seremonial dirayakan pada tanggal 17 Maret 2012 lalu, di Goethe Haus, Jakarta.

Perayaan yang menampilkan pameran foto dan pagelaran budaya diisi para tokoh pendukung gerakan masyarakat adat. Pada kesempatan ini Bupati Halmahera utara Hein Namotemo yang juga menghadiri acara tersebut ikut larut dalam tarian adat khas Halmahera. Berpasangan dengan istri, Hein Namotemo dan beberapa penonton yang turut menari mengikuti alunan irama khas Halmahera Utara.

Riuh tepuk tangan menandai begitu suka citanya penonton yang hadir memadai ruang teater. 6 penyanyi wanita berpakaian khas Halmahera mendendangkan lagu sambil berjoget seirama. Suasana semakin marak dengan hadirnya 2 wanita paruh baya yang tampil penuh penghayatan.

Video Journalist : DENNY SUGIHARTO | DWI OKTAVIANE

Jelajahi Masjid Bersejarah di Kampung Arab Pekojan


Aktivitas khas di bulan ramadhan selalu diisi dengan kegiatan yang dilakukan secara berkelompok maupun perseorangan. Dari yang memperbanyak ibadah di masjid, berburu makanan berbuka puasa, hingga jalan-jalan menelusuri lokasi dan bangunan bersejarah. Rama...

Aktivitas khas di bulan ramadhan selalu diisi dengan kegiatan yang dilakukan secara berkelompok maupun perseorangan. Dari yang memperbanyak ibadah di masjid, berburu makanan berbuka puasa, hingga jalan-jalan menelusuri lokasi dan bangunan bersejarah.

Ramadhan 1433 H kali ini, diisi oleh salah satu komunitas yang konsen terhadap peninggalan bersejarah, yaitu komunitas jelajah budaya yang menyelenggarakan acara ngabuburit menelusuri daerah kampung arab Pekojan Jakarta Barat.

Sampailah peserta ke lokasi yang pertama yaitu jalan Pengukiran. Disana terdapat sebuah masjid yang merupakan salah satu masjid tertua di Jakarta, yaitu masjid Al-Anshor. Dibangun pada pertengahan abad ke-17 atau kurang lebih tahun 1648 oleh kaum muslim dari Malabar.

Perjalanan dilanjutkan ke daerah Pekojan tepatnya di jalan Pekojan 1 gang 3, berdiri sebuah masjid bernama masjid Ar-Raudah. Bangunan ini dulunya markas organisasi Islam, Jamiatul Khoir yang didirikan pada tahun 1901. Di masjid ini, pada dinding utama terdapat prasasti yang menyatakan bangunan ini selesai dibangun tahun 28 rajab 1304 H/22 April 1887 M.

Berikutnya adalah salah satu masjid kuno terbesar di daerah Pekojan, Masjid Jami’ Annawier begitu masyarakat setempat menyebutnya. Masjid ini dibangun pada tahun 1760 M, dan pada tahun 1850 pertama kali masjid ini diperluas oleh komandan laskar kesultanan banten yaitu komandan Dahlan. Masjid ini memiliki menara yang menyatu dengan bangunannya, serta denah ruang utama berbentuk L.

Masjid langgar tinggi adalah tujuan terakhir dari kegiatan ini. Masjid yang berada ditepi kali angke ini dibangun pada tahun 1829 M. Masjid berlantai dua ini dibangun oleh seorang kapiten arab yang bernama Syekh Said Naum. Dulu kala para pedagang yang sedang melewati kali Angke bisa langsung wudhu dan masuk lewat pintu sisi selatan masjid.

Video Journalist : DENNY SUGIHARTO | DWI OKTAVIANE

Kamis, 18 Oktober 2012

kental nuansa jawa di masjid al alam cilincing


Pesisir utara Jakarta, tepatnya di wilayah pantai Cilincing, terdapat sebuah peninggalan bersejarah berupa sebuah bangunan yang masih berdiri kokoh. Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, bangunan tersebut berdiri atas prakarsa Fatahilah ketika menyerang Bangsa Portugis di Sunda Kelapa di tahun 1527 silam.

Bangunan yang dimaksud adalah masjid Al-Alam Cilincing, sebuah masjid dengan ukuran 10 x 10 meter persegi ini menggunakan konstruksi kayu sedangkan dinding dan plafon terbuat dari bambu.

Rabu, 12 September 2012

Mengenal Koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik


Jika berkunjung ke kompleks Kota Tua, sempatkanlah mengunjungi Museum Keramik dan Senirupa yang berada di sebelah timur museum Fatahilah. Bangunan dengan ciri arsitektur gaya Neo Klasik ini dibangun tahun 1870 dan hasil rancangan Van Raders. Pada awalnya...

Jika berkunjung ke kompleks Kota Tua, sempatkanlah mengunjungi Museum Keramik dan Senirupa yang berada di sebelah timur museum Fatahilah. Bangunan dengan ciri arsitektur gaya Neo Klasik ini dibangun tahun 1870 dan hasil rancangan Van Raders.

Pada awalnya gedung ini digunakan sebagai Lembaga Peradilan tertinggi Belanda (Raad Van Justice Binnen Het Casteel Batavia) pada 21 Januari 1870, dan selanjutnya pada tahun 1970-1973 digunakan sebagai kantor Walikota Jakarta Barat.

Gedung ini memiliki luas bangunan sekitar 2.430 m2 dan dibangun diatas tanah seluas 8.875 m2. Terdapat bagian atas depan berbentuk segitiga yang menggambarkan Crown atau Mahkota Raja, sedang bagian teras depan ditopang tiang pilar atau Doric. Pada halaman depan terdapat dua meriam yang menambah kesan klasik gedung tersebut.

Kantor Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta pernah berkantor di museum senirupa dan keramik setelah tahun 1974 dilakukan pemugaran gedung. Pada tanggal 20 Agustus 1976 diresmikan sebagai Gedung Balai Seni Rupa oleh Presiden Soeharto. Lalu pada 10 Juni 1977 gedung ini kembali beralih fungsi menjadi museum keramik dan diresmikan oleh gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Seiring fungsinya yang menjadi pusat seni rupa, tepat pada tahun 1990, Balai Seni Rupa digabung dengan Museum Keramik menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik.

Ketika memasuki ruang pamer, kita akan disuguhkan koleksi yang jumlahnya 500-an baik berupa lukisan maupun patung. Ada lukisan tertua antara tahun 1807-1880 yaitu lukisan Bupati Cianjur karya Raden Saleh Syarif Bustaman. Serta terpampang lukisan karya maestro Indonesia seperti Sudjono, Affandi, Hendra Gunawan, Basuki Abdulah dan pelukis lainnya.

Di museum ini juga terdapat koleksi keramik lokal yang bersejarah yaitu keramik peninggalan kerajaan Majapahit dari abad ke 14. Tak hanya beragam koleksi keramik lokal, pengunjung juga bisa melihat koleksi keramik mancanegara berasal dari benua Eropa seperti Belanda, dan kawasan Asia seperti Cina, Jepang, Vietnam, dan Thailand.

Video Journalist : DENNY SUGIHARTO | DWI OKTAVIANE

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More