Jumat, 26 Oktober 2012

Warna-warni Sudut Kota Tua (Part 1)


Beragam pernak-pernik dan aktivitas warga dari segala usia ini membaur menghiasi kawasan Kota Tua di Jakarta Barat yang posisinya dekat dengan Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri juga Stasiun Kota atau biasa dikenal Stasiun Beos.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Masjid Jami’ As-Salafiyah, Peninggalan Pangeran Achmad Djaketra


Masjid bersejarah ternyata bukan hanya terdapat di sekitar kawasan Kota Tua saja. Namun, ada salah satu masjid tertua lainnya di wilayah Jakarta Timur, tepatnya di jalan Jatinegara Kaum Raya, masjid ini juga dikenal dengan sebutan Masjid Jami’ As-Salafi...

Masjid bersejarah ternyata bukan hanya terdapat di sekitar kawasan Kota Tua saja. Namun, ada salah satu masjid tertua lainnya di wilayah Jakarta Timur, tepatnya di jalan Jatinegara Kaum Raya, masjid ini juga dikenal dengan sebutan Masjid Jami’ As-Salafiyah.

Masjid As-Salafiyah yang didirikan oleh pangeran Achmad Djaketra pada tahun 1620 bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, melainkan digunakan sebagai tempat mengatur strategi dan mengadakan serangan balasan terhadap VOC.

Masjid yang menempati lahan 7.000 meter persegi ini diberi nama As-Salafiyah yang artinya pendahulu dan penamaan masjid tersebut oleh Gubernur DKI Jakarta Dr. Soemarno. Meski sudah mengalami renovasi, masjid ini masih mempertahankan beberapa bagian hingga saat ini masih terjaga keaslianya.

Selain bangunan masjid, di sebelah bagian barat terdapat komplek makam pangeran Achmad Djaketra, Pangeran Sageri, Pangeran Lahut putra pangeran Achmad Djaketra dan beberapa makam kerabatnya. Peziarah yang datang tidak hanya dari Jakarta saja, melainkan banyak peziarah yang datang dari luar ibukota Jakarta.

Video Journalist : DENNY SUGIHARTO | DWI OKTAVIANE

Situs Batujaya Peninggalan Kerajaan Tarumanagara


Hanya butuh waktu sekitar tiga jam dari Jakarta menuju kota lumbung padi Karawang, Jawa Barat. Kali ini Komunitas Jelajah Budaya akan mengunjungi sebuah peninggalan arkeologi berupa kompleks percandian Batujaya. Kawasan Batujaya termasuk di wilayah desa...

Hanya butuh waktu sekitar tiga jam dari Jakarta menuju kota lumbung padi Karawang, Jawa Barat. Kali ini Komunitas Jelajah Budaya akan mengunjungi sebuah peninggalan arkeologi berupa kompleks percandian Batujaya. Kawasan Batujaya termasuk di wilayah desa Segaran, kecamatan Batujaya dan desa Telagajaya kecamatan Pakisjaya.

Sesampai di lokasi percandian batujaya, kita disambut oleh hamparan sawah yang luas dan padi yang menghijau. Sebelum kita memasuki area percandian, kita mampir terlebih dahulu ke museum yang dibangun pemerintah setempat untuk memamerkan barang-barang arkeologi yang ditemukan saat ekskavasi. Didalam museum kita bisa melihat koleksi berupa keramik, bata berprofil, bata kunci, bata bercap kaki, bata bertulis, bata dari susunan stupa, pecahan kaca, manik-manik, arca, tengkorak manusia, gerabah (type buni).

Setelah puas melihat koleksi yang ada di museum, peserta kemudian berjalan beriringan menyusuri persawahan yang dipandu oleh Hasan Djafar, beliau adalah salah satu orang yang ikut ekskavasi situs Batujaya sejak tahun 1985. Panas siang itu tidak menyurutkan niat peserta menyimak penjelasan dari Hasan Djafar saat sampai ke lokasi candi yang pertama, yaitu candi Jiwa.

Kompleks percandian Batujaya merupakan peninggalan pada jaman kerajaan Tarumanagara pertama kali ditemukan pada tahun 1984 oleh tim jurusan arkeologi fakultas sastra (sekarang departemen arkeologi fakultas ilmu pengetahuan budaya) Universitas Indonesia, berdasarkan informasi dari penduduk Cibuaya. Kawasan yang memiliki luas sekitar 5 km/segi hingga saat ini terdapat lebih dari 30 candi tersebar di kawasan tersebut. Dua diantaranya yang paling monumental adalah candi Jiwa dan candi Blandongan.

Pertama kali ditemukan, candi-candi tersebut masih berada didalam gundukan tanah yang tersebar di lahan persawahan, penduduk setempat menyebutnya sebagai unur. Dari penggalian di candi Jiwa, situs ini telah ditampakkan seluruh permukaan bangunan yang tersisa dan beberapa bagian kaki candi. Candi Jiwa berukuran 19 x 19 m dengan tinggi seluruh bangunan yang tersisa 4,70 m.

Situs berikutnya adalah situs Blandongan yang terbesar jika dibandingkan dengan situs-situs yang lain di kawasan Batujaya. Candi dengan bagian kaki yang berdenah bujur sangkar berukuran 25 x 25 m, memiliki empat buah tangga yang terletak di keempat sisinya. Selain itu juga ditemukan empat fragmen inskripsi yang berisi ayat-ayat suci agama budha, oleh karena itu candi di kawasan Batujaya merupakan candi agama budha dan satu-satunya yang ada di Jawa Barat.

Video Journalist : DENNY SUGIHARTO | DWI OKTAVIANE

Bupati Halmahera Utara Menari di Pesta Adat Nusantara


Bersatunya masyarakat adat se-nusantara secara seremonial dirayakan pada tanggal 17 Maret 2012 lalu, di Goethe Haus, Jakarta. Perayaan yang menampilkan pameran foto dan pagelaran budaya diisi para tokoh pendukung gerakan masyarakat adat. Pada kesempatan...

Bersatunya masyarakat adat se-nusantara secara seremonial dirayakan pada tanggal 17 Maret 2012 lalu, di Goethe Haus, Jakarta.

Perayaan yang menampilkan pameran foto dan pagelaran budaya diisi para tokoh pendukung gerakan masyarakat adat. Pada kesempatan ini Bupati Halmahera utara Hein Namotemo yang juga menghadiri acara tersebut ikut larut dalam tarian adat khas Halmahera. Berpasangan dengan istri, Hein Namotemo dan beberapa penonton yang turut menari mengikuti alunan irama khas Halmahera Utara.

Riuh tepuk tangan menandai begitu suka citanya penonton yang hadir memadai ruang teater. 6 penyanyi wanita berpakaian khas Halmahera mendendangkan lagu sambil berjoget seirama. Suasana semakin marak dengan hadirnya 2 wanita paruh baya yang tampil penuh penghayatan.

Video Journalist : DENNY SUGIHARTO | DWI OKTAVIANE

Jelajahi Masjid Bersejarah di Kampung Arab Pekojan


Aktivitas khas di bulan ramadhan selalu diisi dengan kegiatan yang dilakukan secara berkelompok maupun perseorangan. Dari yang memperbanyak ibadah di masjid, berburu makanan berbuka puasa, hingga jalan-jalan menelusuri lokasi dan bangunan bersejarah. Rama...

Aktivitas khas di bulan ramadhan selalu diisi dengan kegiatan yang dilakukan secara berkelompok maupun perseorangan. Dari yang memperbanyak ibadah di masjid, berburu makanan berbuka puasa, hingga jalan-jalan menelusuri lokasi dan bangunan bersejarah.

Ramadhan 1433 H kali ini, diisi oleh salah satu komunitas yang konsen terhadap peninggalan bersejarah, yaitu komunitas jelajah budaya yang menyelenggarakan acara ngabuburit menelusuri daerah kampung arab Pekojan Jakarta Barat.

Sampailah peserta ke lokasi yang pertama yaitu jalan Pengukiran. Disana terdapat sebuah masjid yang merupakan salah satu masjid tertua di Jakarta, yaitu masjid Al-Anshor. Dibangun pada pertengahan abad ke-17 atau kurang lebih tahun 1648 oleh kaum muslim dari Malabar.

Perjalanan dilanjutkan ke daerah Pekojan tepatnya di jalan Pekojan 1 gang 3, berdiri sebuah masjid bernama masjid Ar-Raudah. Bangunan ini dulunya markas organisasi Islam, Jamiatul Khoir yang didirikan pada tahun 1901. Di masjid ini, pada dinding utama terdapat prasasti yang menyatakan bangunan ini selesai dibangun tahun 28 rajab 1304 H/22 April 1887 M.

Berikutnya adalah salah satu masjid kuno terbesar di daerah Pekojan, Masjid Jami’ Annawier begitu masyarakat setempat menyebutnya. Masjid ini dibangun pada tahun 1760 M, dan pada tahun 1850 pertama kali masjid ini diperluas oleh komandan laskar kesultanan banten yaitu komandan Dahlan. Masjid ini memiliki menara yang menyatu dengan bangunannya, serta denah ruang utama berbentuk L.

Masjid langgar tinggi adalah tujuan terakhir dari kegiatan ini. Masjid yang berada ditepi kali angke ini dibangun pada tahun 1829 M. Masjid berlantai dua ini dibangun oleh seorang kapiten arab yang bernama Syekh Said Naum. Dulu kala para pedagang yang sedang melewati kali Angke bisa langsung wudhu dan masuk lewat pintu sisi selatan masjid.

Video Journalist : DENNY SUGIHARTO | DWI OKTAVIANE

Kamis, 18 Oktober 2012

kental nuansa jawa di masjid al alam cilincing


Pesisir utara Jakarta, tepatnya di wilayah pantai Cilincing, terdapat sebuah peninggalan bersejarah berupa sebuah bangunan yang masih berdiri kokoh. Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, bangunan tersebut berdiri atas prakarsa Fatahilah ketika menyerang Bangsa Portugis di Sunda Kelapa di tahun 1527 silam.

Bangunan yang dimaksud adalah masjid Al-Alam Cilincing, sebuah masjid dengan ukuran 10 x 10 meter persegi ini menggunakan konstruksi kayu sedangkan dinding dan plafon terbuat dari bambu.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More